Blog hubungan internasional dan ilmu sosial lainnya

Opini

Harapan di Tengah Kekacauan: Kisah Panjang Penderitaan Myanmar

Susu Kyk berpidato

Oleh T.H. Hari Sucahyo*

Sejak kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sipil di Myanmar pada Februari 2021, negara itu terjerumus dalam kekacauan yang tampaknya tak berujung. Kudeta tersebut menandai berakhirnya masa singkat demokrasi yang telah memberi harapan bagi jutaan rakyat setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang kediktatoran militer.

Dalam hitungan hari setelah pasukan bersenjata merebut kekuasaan, rakyat dari berbagai lapisan turun ke jalan, menuntut agar demokrasi dikembalikan dan menolak pemerintahan junta. Namun, jawaban militer terhadap seruan damai itu adalah peluru, gas air mata, dan kekerasan yang menandai babak baru dalam sejarah kelam Myanmar.

Aksi protes besar-besaran yang dikenal sebagai Gerakan Pembangkangan Sipil atau Civil Disobedience Movement (CDM) menjadi simbol perlawanan rakyat. Ribuan pegawai negeri, dokter, guru, pekerja bank, dan bahkan pegawai kereta api memilih mogok kerja sebagai bentuk penolakan terhadap junta. Kota-kota besar seperti Yangon, Mandalay, dan Naypyidaw dipenuhi demonstran yang memegang spanduk bertuliskan tuntutan kebebasan dan demokrasi.

Dunia menyaksikan bagaimana masyarakat Myanmar, yang selama bertahun-tahun terbungkam oleh ketakutan, kini bersatu menantang otoritas bersenjata. Namun, keberanian mereka dibalas dengan kekejaman. Pasukan keamanan mulai menembak secara membabi buta, menangkap ribuan orang tanpa proses hukum, dan memaksa banyak keluarga hidup dalam ketakutan yang mencekam.

Dalam beberapa bulan pertama setelah kudeta, jumlah korban jiwa meningkat pesat. Organisasi pemantau hak asasi manusia mencatat ratusan warga sipil tewas, termasuk anak-anak dan remaja. Tentara melakukan penangkapan massal terhadap siapa pun yang dicurigai mendukung gerakan pro-demokrasi. Para aktivis ditahan, disiksa, bahkan dibunuh. Internet sering diputus untuk membungkam arus informasi, sementara media independen dibungkam satu per satu.

Bagi junta, kontrol total atas narasi publik adalah sama pentingnya dengan kontrol atas wilayah. Di tengah penindasan itu, semangat perlawanan tidak padam. Banyak anak muda yang sebelumnya hanya mengenal demokrasi selama beberapa tahun terakhir kini memutuskan untuk mengangkat senjata.

Muncullah kelompok-kelompok perlawanan bersenjata yang dikenal sebagai People’s Defense Force (PDF). Mereka adalah kombinasi dari mantan tentara yang membelot, aktivis sipil, mahasiswa, dan warga biasa yang tidak lagi percaya pada perjuangan damai. Di seluruh negeri, terutama di wilayah pedesaan dan perbatasan, kelompok PDF bermunculan dan bekerja sama dengan kelompok etnis bersenjata yang telah lama berkonflik dengan pemerintah pusat, seperti Tentara Kemerdekaan Kachin, Tentara Arakan, dan Tentara Karen. Persatuan antara kelompok etnis dan kekuatan sipil ini menjadi ancaman nyata bagi junta yang kini harus menghadapi perlawanan di banyak front sekaligus.

Perjuangan bersenjata ini membawa konsekuensi besar bagi rakyat sipil. Desa-desa dibakar, rumah-rumah dihancurkan, dan ribuan orang dipaksa mengungsi ke hutan atau melintasi perbatasan ke Thailand, India, dan Bangladesh. Serangan udara dari militer Myanmar menjadi hal yang lumrah, bahkan terhadap sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah.

Baca juga:  Diplomasi Budaya Korea Selatan melalui Drama Keluarga

Banyak laporan menyebutkan penggunaan bom curah dan serangan artileri terhadap pemukiman warga, yang secara jelas melanggar hukum internasional. Para pengungsi kini hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa makanan cukup, air bersih, atau layanan kesehatan. Di beberapa wilayah, penyakit dan kelaparan mulai menambah panjang daftar penderitaan rakyat Myanmar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut krisis ini sebagai “spiral kekerasan yang tak berujung.” Hingga kini, lebih dari 2,4 juta orang telah mengungsi, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Infrastruktur hancur, sistem kesehatan lumpuh, dan ekonomi merosot drastis. Mata uang kyat kehilangan nilainya, harga bahan pokok melonjak tajam, dan jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan. Bagi masyarakat Myanmar, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup di tengah kekacauan yang tiada henti.

Sementara itu, junta militer terus berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun. Pemimpinnya, Jenderal Min Aung Hlaing, menegaskan bahwa kudeta dilakukan untuk “menyelamatkan negara dari kecurangan pemilu,” sebuah klaim yang ditolak luas oleh masyarakat internasional. Pemilu 2020 yang memenangkan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi dinilai sah oleh pengamat independen.

Bagi militer yang telah kehilangan banyak pengaruh politik, kemenangan besar NLD dianggap ancaman langsung terhadap dominasi mereka. Penahanan Aung San Suu Kyi dan tokoh-tokoh partai lainnya hanyalah bagian dari strategi untuk menyingkirkan lawan politik.

Aung San Suu Kyi sendiri dijatuhi serangkaian hukuman penjara atas berbagai tuduhan yang dianggap dibuat-buat, seperti pelanggaran aturan COVID-19, kepemilikan alat komunikasi ilegal, hingga korupsi. Hukuman yang dijatuhkan kepadanya mencapai puluhan tahun, membuat banyak pihak yakin junta berusaha memastikan ia tak pernah kembali ke panggung politik. Namun, meski Suu Kyi dipenjara, semangat rakyat yang pernah dipersatukannya tetap menyala.

Di tengah situasi ini, komunitas internasional menghadapi dilema. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa memang memberikan tekanan, tetapi dampaknya terhadap junta masih terbatas. Militer Myanmar tetap mendapat dukungan senjata, bahan bakar, dan logistik dari beberapa negara, termasuk Rusia dan China, yang melihat keuntungan strategis dalam mempertahankan hubungan dengan rezim tersebut.

Upaya diplomatik melalui ASEAN pun terhambat oleh perbedaan pandangan di antara negara anggotanya. Kesepakatan lima poin yang diusulkan pada tahun 2021 untuk mengakhiri kekerasan dan memulai dialog politik nyaris tidak menunjukkan hasil. Junta terus mengabaikan seruan perdamaian dan justru memperketat represi terhadap rakyatnya.

Baca juga:  Japan Ghosted: Failing Negotiation with US

Bagi banyak orang di Myanmar, harapan kini bertumpu pada ketahanan gerakan perlawanan dan dukungan komunitas internasional yang lebih nyata. Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), yang dibentuk oleh anggota parlemen terpilih yang digulingkan, berusaha membangun legitimasi sebagai pemerintahan sah Myanmar. Mereka menjalin hubungan diplomatik informal dengan sejumlah negara dan menggalang dukungan internasional. Namun, tanpa pengakuan resmi dan tanpa kemampuan militer yang seimbang, NUG menghadapi jalan panjang dan berliku untuk merebut kembali kekuasaan.

Sementara itu, penderitaan rakyat terus berlanjut. Setiap minggu, laporan baru muncul tentang pembunuhan massal, penyiksaan, dan pembakaran desa. Militer tidak hanya menyerang kelompok bersenjata, tetapi juga menggunakan kekerasan sebagai alat untuk menghancurkan semangat perlawanan di kalangan rakyat. Banyak keluarga kehilangan anggota mereka tanpa tahu di mana jasadnya dimakamkan. Anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang trauma, menyaksikan kekerasan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan dalam kondisi paling suram, muncul kisah-kisah keberanian yang menginspirasi. Para relawan medis mempertaruhkan nyawa mereka untuk menolong korban luka di garis depan. Guru-guru mengajar anak-anak di hutan dan kamp pengungsian dengan peralatan seadanya. Seniman dan jurnalis yang bekerja secara sembunyi-sembunyi terus mendokumentasikan kekejaman agar dunia tidak lupa akan apa yang terjadi di tanah mereka. Di dunia maya, warga Myanmar yang tersebar di luar negeri memanfaatkan media sosial untuk menggalang dana, menyebarkan informasi, dan menjaga semangat perjuangan tetap hidup.

Krisis Myanmar tidak hanya menjadi tragedi nasional, tetapi juga ujian bagi dunia internasional. Bagaimana masyarakat global menanggapi penderitaan yang disebabkan oleh rezim militer yang brutal akan menjadi ukuran sejauh mana komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi benar-benar dijalankan. Hingga kini, respon dunia masih terbagi antara kecaman moral dan langkah konkret yang terbatas. Banyak yang khawatir bahwa jika situasi ini dibiarkan, Myanmar akan menjadi negara gagal sepenuhnya, tempat hukum rimba dan kekerasan menggantikan tatanan sipil.

Sementara itu, dampak dari krisis ini mulai merembet ke wilayah regional. Gelombang pengungsi ke negara tetangga menciptakan tekanan sosial dan ekonomi, terutama di Thailand dan India. Konflik bersenjata di perbatasan juga meningkatkan risiko perdagangan senjata, narkotika, dan manusia. Stabilitas Asia Tenggara kini berada dalam ancaman nyata jika kekacauan di Myanmar tidak segera diakhiri.

Tiga tahun setelah kudeta, tidak ada tanda-tanda bahwa junta akan menyerahkan kekuasaan. Militer masih menguasai sebagian besar kota besar, tetapi di banyak daerah pedesaan, kontrol mereka melemah karena serangan berulang dari pasukan perlawanan. Beberapa analis menggambarkan kondisi Myanmar sebagai “perang saudara penuh” di mana tidak ada pihak yang benar-benar mampu mengklaim kemenangan.

Baca juga:  International Organisation for Mediation: Langkah Baru untuk Perdamaian

Junta mungkin memiliki senjata dan pesawat tempur, tetapi mereka kehilangan legitimasi dan kepercayaan rakyat. Di sisi lain, kelompok perlawanan memiliki dukungan moral dan semangat juang, namun kekurangan sumber daya dan koordinasi untuk menggulingkan rezim sepenuhnya.

Kini, masa depan Myanmar tampak bergantung pada dua hal: keteguhan rakyatnya dan keberanian dunia untuk bertindak lebih dari sekadar mengecam. Rakyat Myanmar telah menunjukkan tekad luar biasa dalam menghadapi kekejaman. Mereka menolak tunduk meski dihadapkan pada risiko kematian. Mereka terus bermimpi tentang negara di mana anak-anak mereka bisa hidup tanpa rasa takut, di mana keadilan dan kebebasan bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan. Tanpa dukungan internasional yang lebih kuat, baik dalam bentuk bantuan kemanusiaan, tekanan diplomatik yang efektif, maupun perlindungan bagi pengungsi, maka perjuangan itu bisa berlarut-larut hingga bertahun-tahun.

Myanmar hari ini adalah potret sebuah bangsa yang terluka parah, namun belum menyerah. Di tengah reruntuhan kota, di balik kabut perang dan penderitaan, masih ada percikan harapan yang enggan padam. Harapan bahwa suatu hari nanti, kekerasan akan berakhir, pelaku kejahatan akan diadili, dan rakyat akan mendapatkan kembali hak untuk menentukan nasib mereka sendiri. Harapan bahwa dari puing-puing kehancuran, Myanmar bisa bangkit sebagai negara yang damai dan bebas.

Jalan menuju ke sana tidaklah mudah. Luka yang ditinggalkan oleh kekerasan begitu dalam, dan rekonsiliasi tampak jauh dari jangkauan. Butuh waktu, keadilan, dan keberanian untuk membangun kembali kepercayaan yang telah hancur. Tapi jika sejarah mengajarkan sesuatu, itu adalah bahwa tekad rakyat yang bersatu tak pernah bisa dipadamkan selamanya. Mereka yang hari ini berjuang di hutan, di pengasingan, atau di balik jeruji besi, suatu hari nanti akan menulis bab baru dalam sejarah negeri mereka. Sebuah bab yang mungkin lahir dari penderitaan, tetapi juga dari keteguhan hati yang luar biasa untuk tidak menyerah pada tirani.

Sampai hari itu tiba, Myanmar tetap menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan. Sebuah pengingat bagi dunia bahwa kebebasan, meski sering dibayar dengan darah, adalah hak yang tidak bisa dirampas oleh kekuatan apa pun. Dunia mungkin bisa menutup mata untuk sementara waktu, tetapi penderitaan rakyat Myanmar terus bersuara; melalui doa, tangisan, dan perlawanan yang tidak kunjung padam.


*Penulis merupakan Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

T.H. Hari Sucahyo
Bagikan ini:

Leave a Reply