Oleh T.H. Hari Sucahyo1

Ketika lampu kamar dipadamkan dan layar menyala, tak sedikit keluarga Indonesia yang berkumpul untuk menikmati drama Korea bertema keluarga. Di balik adegan haru, pertengkaran antar generasi, atau kisah perjuangan cinta dan pengorbanan, sesungguhnya ada arus diplomasi budaya yang mengalir tenang namun pasti. Drama Korea tak sekadar hiburan; ia adalah jembatan yang menghubungkan dua bangsa, Korea Selatan dan Indonesia dalam pemahaman budaya, empati, dan kedekatan emosional.

Kehadiran drama Korea di ruang-ruang domestik masyarakat Indonesia bukanlah fenomena baru. Sejak awal tahun 2000-an, tayangan seperti Endless Love dan Winter Sonata mulai membuka jalan bagi gelombang Hallyu (Korean Wave). Namun dalam satu dekade terakhir, yang menarik perhatian bukan lagi sekadar kisah cinta berbalut keindahan musim gugur, melainkan drama keluarga yang menggambarkan dinamika sosial Korea dengan cara yang intim dan menyentuh hati. Di sinilah diplomasi budaya bekerja dalam senyap, tetapi dengan dampak yang signifikan.

Patricia Goff, seorang ahli dalam studi hubungan internasional dan diplomasi budaya, menawarkan tiga kunci penting untuk memahami strategi diplomasi budaya yang efektif: koneksi, konsistensi, dan inovasi. Jika kita menilik bagaimana Korea Selatan menanamkan pengaruh budaya melalui drama bertema keluarga di Indonesia, maka ketiga prinsip tersebut tampak dijalankan dengan telaten dan penuh perhitungan.

Drama Korea bertema keluarga berhasil menciptakan koneksi emosional dengan penonton Indonesia. Nilai-nilai seperti kasih sayang antar generasi, pengorbanan orang tua, konflik antara tradisi dan modernitas, serta pentingnya solidaritas keluarga, merupakan isu-isu universal yang juga dirasakan oleh keluarga Indonesia. Dalam serial seperti Reply 1988, penonton Indonesia dapat merasakan kedekatan emosional dengan kehidupan sehari-hari keluarga Korea: makan bersama di lantai, menonton TV satu ruangan, saling meminjamkan bumbu dapur antar tetangga. Adegan-adegan ini membangun empati, membuat penonton merasa bahwa meskipun berasal dari budaya yang berbeda, pengalaman manusia tetap memiliki benang merah yang sama.

Baca juga:  Diplomasi Humana: Menenun Jaringan Empati untuk Masa Depan Dunia

Koneksi tidak cukup tanpa konsistensi. Di sinilah Korea Selatan unggul. Negara ini telah membangun citra budaya yang kuat dan konsisten melalui semua aspek dramanya dari gaya berpakaian, penggunaan bahasa Korea yang tetap dipertahankan meski diterjemahkan, hingga penyisipan budaya kuliner seperti kimchi, tteokbokki, atau kebiasaan minum teh bersama. Penonton Indonesia yang tadinya asing kini mulai akrab dengan berbagai elemen tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mencoba membuat masakan Korea, belajar bahasa Korea secara daring, atau bahkan berwisata ke Korea karena ingin merasakan langsung atmosfer yang dilihat dalam drama.

Konsistensi ini adalah bentuk strategi yang sadar. Ia bukan hasil kebetulan, melainkan bagian dari soft power Korea Selatan yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga seperti Korea Foundation, KOCIS (Korean Culture and Information Service), hingga kementerian luar negeri Korea Selatan sendiri. Mereka memahami bahwa dengan menjaga kualitas produksi, nilai-nilai budaya yang ingin disampaikan, dan keberlanjutan distribusi konten, Korea Selatan tidak hanya menjual produk hiburan tetapi juga membangun pengaruh budaya yang mendalam.

Pilar terakhir dari teori Goff adalah inovasi. Drama Korea telah mengalami banyak transformasi dari segi format, distribusi, dan cara menggaet penonton lintas negara. Platform digital seperti Netflix, Viu, dan Vidio membuka akses yang lebih luas bagi penonton Indonesia. Tak perlu lagi menunggu di jam tayang televisi lokal kapan pun, di mana pun, drama Korea bisa diakses dengan subtitle bahasa Indonesia yang akurat dan rapi. Ini adalah bentuk inovasi dalam distribusi yang menciptakan efisiensi sekaligus meningkatkan penetrasi budaya.

Inovasi juga terlihat dalam keberagaman tema yang diangkat. Drama seperti My Father is Strange, Once Again, atau What Happens to My Family? tidak hanya menyajikan hubungan orang tua-anak, tetapi juga merambah isu seperti perceraian, pengasuhan, tekanan kerja, hingga kesenjangan generasi yang dibalut dengan narasi yang humanis. Tema-tema ini menjadi cerminan sosial yang juga relevan dengan kehidupan di Indonesia, terutama di tengah transformasi nilai keluarga di era modern. Maka tak heran, banyak penonton yang merasa “tercermin” dalam karakter-karakter drama tersebut.

Baca juga:  Pentingnya Diplomasi Komersial bagi Sebuah Negara

Dampak dari diplomasi budaya ini sangat nyata. Berdasarkan beberapa survei lembaga kebudayaan Korea di Indonesia, minat masyarakat terhadap budaya Korea meningkat seiring dengan konsumsi drama. Kelas-kelas bahasa Korea di berbagai pusat kebudayaan terus dipadati. Festival kuliner Korea digelar dan dihadiri ribuan orang. Bahkan dalam bidang pendidikan, beasiswa ke Korea Selatan semakin diminati. Semua ini adalah bentuk penguatan hubungan bilateral yang bukan bersifat politis atau ekonomis semata, tetapi berbasis pada kedekatan kultural dan ketertarikan emosional yang telah dibangun dengan teliti.

Diplomasi budaya melalui drama keluarga juga menciptakan citra Korea Selatan sebagai negara yang menjunjung nilai-nilai keluarga, kerja keras, dan kesetiaan pada tradisi. Citra ini, ketika dibangun secara berkelanjutan, menjadi aset diplomatik yang tidak ternilai. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kekuatan lunak semacam ini memiliki keampuhan untuk membangun jembatan antar bangsa, bukan tembok. Bukan kebetulan jika Korea Selatan kini menjadi negara dengan reputasi budaya yang paling positif di Asia menurut sejumlah indeks persepsi global.

Di sisi lain, Indonesia juga mendapatkan keuntungan dari proses ini. Masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap budaya asing, lebih menghargai keberagaman cara hidup, serta terdorong untuk mengembangkan konten lokal yang bisa bersaing secara emosional dan artistik. Bahkan beberapa sineas Indonesia mulai mengadaptasi pendekatan penceritaan ala Korea dalam membangun kedekatan dengan penonton. Hal ini menandakan bahwa hubungan budaya yang terjalin bukan hanya satu arah, tetapi menciptakan ruang dialog dan inspirasi timbal balik.

Tentu, semua bentuk diplomasi budaya memiliki tantangan. Ada pihak yang khawatir terhadap potensi ‘invasi budaya’ atau dominasi nilai-nilai asing yang menggeser budaya lokal. Namun di tengah globalisasi yang tak bisa dihindari, kuncinya bukan pada penolakan, melainkan pada dialog dan adaptasi. Justru dengan mempelajari bagaimana Korea Selatan merancang strategi budaya mereka dengan koneksi, konsistensi, dan inovasi, Indonesia bisa memetik pelajaran untuk memperkuat diplomasi budaya lokal yang lebih sistematis dan berorientasi jangka panjang.

Baca juga:  Japan’s Security Dilemma in the Missile Age: The Evolution of In Defensive Posture in 2025

Drama Korea bertema keluarga bukan hanya kisah hiburan yang membuat kita menangis atau tertawa. Ia adalah medium penyampai nilai, alat diplomasi lunak, dan jembatan budaya yang menghubungkan dua bangsa dengan cara yang lembut namun berdampak dalam. Dalam setiap adegan makan malam keluarga, setiap pelukan hangat ibu pada anaknya, atau setiap konflik kecil yang diselesaikan dengan ketulusan, terselip diplomasi yang mengubah cara kita memandang Korea Selatan. Sebuah strategi yang, secara perlahan, telah menjalin kedekatan dan memperkuat hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan lewat layar kaca, tetapi menyentuh jauh hingga ke hati.


T.H. Hari Sucahyo
  1. T.H. Hari Sucahyo merupakan pegiat di Cross-Disciplinary Discussion Group “Sapientiae” ↩︎

Bagikan ini: